Apa Pendapat Kalian Tentang Hoax?

Hasil gambar untuk the hoax buster

Berita bohong atau yang biasa kita kenal denga sebutan hoax sangat meresahkan bagi kita bukan? Menurut kalian bagaimana sih hoax itu? The Hoax Buster Project merupakan Post Program Activity (PPA) yang diinisiasi oleh Alumni Program Kapal Pemuda ASEAN - Jepang (SSEAYP) tahun 2017 untuk menanggulangi wabah hoax di Indonesia. Penelitian ini kami lakukan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman masyarakat mengenai Hoax beserta dampaknya. Mohon kiranya Anda dapat berpartisipasi dalam survey kami.


Restoring Optimism, Rebuilding Confidence

Selama ini, mayoritas media, baik cetak maupun online, kebanyakan menampilkan berita- berita yang kurang baik. Contohnya saja, tindak kriminal yang dilakukan masyarakat, korupsi pejabat negara, bahkan urusan perceraian keluarga selebriti, hingga yang tidak masuk akal seperti penemuan bidadari di pesisir pantai menjadi suguhan di media. Fenomena ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mempengaruhi pola berpikir seseorang. Seseorang yang setiap harinya dicekoki berita- berita negatif cenderung menjadi pribadi yang pesimis dan apatis. Sebelum itu, mari kita cari tahu, mengapa sangat banyak berita negatif di media?

Penelitian menunjukkan, bahwa ternyata otak kita memiliki kecenderungan untuk lebih memperhatikan hal- hal negatif daripada hal- hal  positif. Para peneliti menyebut kecenderungan ini sebagai Negativity Bias. Riset tersebut menunjukkan, bahwa bagian otak kita yang merespon hal negatif bereaksi lebih sensitif dibandingkan bagian otak yang merespon berita positif.



Selain karena faktor ini, media juga berperan besar dalam fenomena ini. Para jurnalis ini seringkali mengalami konflik kepentingan, dimana ia terpaksa mematuhi perintah atasannya untuk menulis berita negatif tentang suatu peristiwa. Akibatnya, para jurnalis terpaksa menulis berita demikian karena takut kehilangan pekerjaannya.

Tetapi, pemberitaan negatif itu sendiri tidak selamanya  ‘Negatif’. Pemberitaan tersebut dapat membuka kesadaran kita, akan isu- isu yang sebelumnya tak kita ketahui di luar sana. Kita sendiri juga perlu mengasah kemampuan analisis kita terhadap segala sesuatu yang ditayangkan di media, atau disebut sebagai Literasi Media’. Literasi Media dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari- hari. Misalnya saat kita membaca koran, menonton televisi, mendengarkan radio atau membaca artikel. Kemudian, kita bisa membandingkan satu berita yang disiarkan oleh beberapa media tersebut, lalu menganalisis perbedaannya. Setelah itu, kita membuat ulang kembali berita tersebut menurut pemahaman kita dan kita pun telah lebih kritis terhadap media, karena menyadari berita itu ada, karena dibuat. Selain itu, kita juga harus lebih pandai dalam memilih berita. Pilihlah berita- berita positif yang membangun, dan yakinlah bahwa masih banyak hal- hal baik di luar sana.






(Judul mengutip dari tagline GNFI, isi artikel dan gambar disadur dari Kok Bisa)

Books are Gateways to a Boundless Universe

Fakhri Ghiffari (Ex. Sekbid X)

Some people are madly in love with books. Some people feel tortured when they are forced to read one. But honestly, I don’t see a reason for anyone not to read books often. And I think those who are reluctant to do so, just hasn’t been able to see the beauty that a book brings. So as someone who does see that beauty, I feel like I have the responsibility to at least try and describe it to those who don’t.

          I personally think that one of the strongest effects that books have is that they can literally shape your mental character. The way you think, the way you see things, the way you talk, the words you choose when you have to write something, those kind of stuff. For example, the more books you read the more you know about things and not only that you know about those things, but you also become accustomed to seeing those things in different perspectives whether it’s from a sceptics or from an open-minded. And when what I just mentioned in the previous sentence becomes a habit, you will be able to see the world as it is and act upon it in the right way.

           Books also has the power to increase your vocabulary. You might argue that having a great range of vocabulary is not important. But the truth is you’re definitely going to need for a whole lot of stuff if not now, in the future. Having a lot of words in your vocabulary arsenal just goes to show how intelligent you are and therefore you can use it as a weapon to deal with lots of situations. Your vocabulary a problem solver really.

          But above all that, what I treasure the most from my books is that they have this “magical” power to be able to bring me to another place. They can completely distract my head from the problems that I’m facing in the “real world”. They’re like chill pills. And for a person in distress, chill pills are like oases. But when your head gets drifted to a completely different place with a completely different storyline running, it’s not just about the calmness. It’s also about the sense of appreciation that you feel at the current moment. The sense of appreciation that you feel for the book, the author, the information encoded in it, the words written in it, the illustrations drawn in its front-cover and some of its pages. That sense of appreciation is absolutely amazing and it’s certainly something to be grateful about.

Books can literally bring you to another beautiful boundless universe. So why not go on an adventure right now?


Apa Salahnya Mencontek?

Rifkanisa Nur Faiza (Koord. Sekbid IV)

Siapa yang tak kenal dengan kata mencontek ? Kata ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita, terutama di kalangan pelajar. Perilaku ini seolah sudah menjadi budaya turun temurun si kalangan palajar mulai dari siswa SD hingga mahasiswa. Cara menconteknya pun juga semakin canggih. Dulu, menconteknya dengan menuliskan materi/jawaban di kertas kecil, di tangan, atau di meja. Tetapi seiring majunya zaman, kini mencontek kerap dilakukan dengan searching google atau foto catatan melalui hp.

Banyak pelajar sekarang yang tidak lagi merasa bersalah ketika mencontek. Hal ini banyak dilakukan oleh pelajar karena tujuan mereka hanya untuk mengejar nilai dan memenuhi tugas. Ketika ditanya alasan mereka mencontek, pasti mereka menjawab dengan kalimat super ampuh ini; “Karena kenyataannya nilai lebih dihargai dibanding dengan kejujuran. Lagian nggak ada yang tahu.” Tetapi memang banyak guru yang hanya menuntut supaya siswa mendapat nilai yang baik. Banyak yang tidak menghargai, bahkan tidak peduli dengan progress siswa mencapai nilai tersebut. Alhasil siswa menghalalkan segala cara untuk mendapat nilai bagus. Terutama dengan mencontek. Bahkan kini banyak siswa yang bertanya;

“Apa salahnya mencontek?”

Banyak pelajar sekarang berargumen bahwa mencontek itu tidak salah. Apa salahnya mencontek kalau kita hanya dituntut untuk mendapat nilai bagus. Kita diminta untuk meningkatkan nilai sekolah kita supaya tidak kalah dengan sekolah lain. Kita dituntut untuk menguasai semua mata pelajaran dengan mendapat hasil yang maksimal di semua mapel. Lalu, apa salahnya mencontek? Toh guru nanti hanya melihat hasilnya. Kira-kira seperti itulah argumen pelajar sekarang tentang mencontek.
Sekarang, biar kami perjelas. Siswa bertanya, apa salahnya mencontek? Tentu salah. Perilaku mencontek sama saja dengan memanipulasi nilai, membohongi diri kalau sebenarnya tidak bisa, dan tentunya merugikan siswa yang rajin belajar. Sekarang giliran kami bertanya balik, apa sebenarnya mereka yang mencontek itu merasa bangga dengan hasil yang didapat dari mencontek? Apakah perilaku mencontek ini dibenarkan?

Dalam Islam sendiri, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah /2:9 yang artinya;
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”

Perlu diketahui, mencontek memiliki banyak dampak negatif baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut beberapa diantaranya:
1
  .       Perasaan takut dan cemas
Moncontek menimbulkan rasa takut dan cemas. Terutama takut ketahuan. Siswa menjadi tidak tenang, dan tidak fokus ketika mengerjakan soal ujian yang justru malah merusak kepercayaan diri mereka.

2.       Tidak percaya diri
Semakin sering siswa mencontek, semakin berkurang rasa percaya diri mereka kalau mereka bisa mengerjakan sendiri. Setiap siswa sebenarnya memiliki kemampuan untuk menerima pelajaran. Sayangnya ada siswa yang malas menggunakan kemampuannya itu. Sehingga mereka memilih cara yang lebih praktis dan berbuah manis tanpa perlu bekerja keras.

3.       Malas belajar
Tentu saja perilaku mencontek bisa menyebabkan turunnya motivasi belajar siswa. Sehingga mereka hanya mengandalkan contekan ketika menghadapi ujian. Akibatnya siswa mendapat nilai bagus tetapi tidak menguasai ilmu yang seharusnya mereka tahu.

4.       Biasa Berbohong
Mencontek menyebabkan siswa menjadi terbiasa berbohong dan tidak merasa bersalah ketika melakukan kecurangan. Hal itu tentu bisa berdampak sangat buruk bagi masa depan siswa.

5.       Menghalalkan segala cara
Mencontek menyebabkan siswa terbiasa menghalalkan segala cara ketika ingin mencapai sesuatu. Segala cara mereka lakukan untuk memperoleh hasil tanpa ingin menjalani proses. Maka sangat bahaya hal ini menjadi kebiasaan siswa.

6.       Tidak terlatih menghadapi masalah
Menyontek menyebabkan siswa tidak berupaya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Padahal masalah pasti akan terus datang ke depannya nanti, maka mencontek berdampak sangat besar bagi masa depan siswa esok.


7.       Membohongi diri sendiri
Seperti yang sudah kami sebutkan, siswa yang mencontek sebenarnya membohongi diri sendiri kalau mereka tidak bisa. Nah itu bisa menjadi masalah besar kedepannya. Contoh ketika ujian tengah maupun akhir semester nilainya selalu memuaskan tapi ternyata ketika ujian nasional (dimana suasana tidak mendukung untuk mencontek) nilainya anjlok karena selama ini ia hanya membohongi dirinya sendiri. Bila itu benar terjadi pasti akan menyeramkan dan memalukan bagi siswa tersebut.

8.       Tidak menghargai diri sendiri
Menyontek menyebabkan siswa merasa dia tidak bisa. Menyebabkan siswa merasa tak mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sikap ini berarti ia tidak menghargai dirinya sendiri. Tentu sangat bahaya bila kita tidak menghargai diri sendiri.

9.       Menular
Ada yang mengibaratkan mencontek seperti penyakit menular. Jika melihat teman sekelasnya mencontek, tetangga kiri kanannya pun bisa ketularan mencontek. Bahkan bisa menular hingga seantero kelas.

1.   Ketergantungan dan kecanduan
Jika terbiasa mencontek maka akan timbul ketergantungan terhadap orang lain, catatan, atau media mencontek lainnya. Hal ini biasanya dirasa setelah mencontek yang pertama, siswa menjadi merasa perlu mencontek dan kecanduan untuk mencontek lagi (selama belum ketahuan)
Lalu bagaimana cara mencegah agar tidak mencontek?

1.    Belajar
Tentu saja belajar merupakan cara utama. Siswa harus berusaha semaksimal mungkin dengan jerih payah sendiri yaitu dengan belajar giat. Siswa juga harus memahami arti penting belajar dan menerawang kedepannya, jangan hanya berpikir jangka pendek. Selain itu pertimbangkan juga prinsip keadilan. Siswa harus bisa fair dalam bersaing. Jangan merugikan teman yang giat belajar.

2.       Bergaul dengan teman yang baik
Pergaulan sangat berpengaruh bagi karakter dan kebiasaan siswa. Bila bergaul dengan teman yang tukang mencontek maka akhirnya dapat menular. Maka pandai-pandailah memilih pergaulan.


Oleh karena itu mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan agar menjadi yang terbaik dan bermanfaat bagi semua. Kebahagiaan tidak mesti selalu dengan hasil nilai A dalam ujian. Namun kebahagiaan sejati adalah ketika kita menikmati proses untuk mendapatkan hasil, berapapun nilanya setidaknya dengan jujur kita mendapat nilai plus di mata Tuhan. Semangat!

Kenali 5 Jenis Cyberbullying Ini Supaya Kamu Tidak Menyakiti Orang Lain

Rifkanisa Nur Faiza (Koor. Sekbid IV)



Bahkan, bully pun mengikuti perkembangan zaman.
Dulu, bully hanya berupa bully secara fisik dan verbal. Karena perkembangan zaman, semakin majunya dunia informasi dan teknologi,  bully juga bisa terjadi di ranah internet atau cyber. Penyebab cyberbullying juga bermacam-macam. Mulai dari motif balas dendam, sekedar lucu-lucuan, dan ada juga yang melakukannya secara tidak sadar. Karena itu, ada baiknya jika kamu mengenali 5 jenis cyberbullying berikut ini. Sehingga, kamu tidak akan menyakiti perasaan orang lain.


1.     Flame War

Kalau kamu suka menulis status sok frontal dengan bahasa yang gak pantas, apalagi kalau ditulis dengan di-capslock, berarti kamu sudah melakukan cyberbullying. Mungkin kamu hanya ingin mengekspresikan amarahmu semata, tapi terkadang statusmu itu bisa menyebar layaknya api (flame) dan akhirnya malah merembet ke mana -mana dan semakin banyak pihak yang terlibat. Makin parah, kan?

       2.      Harassment
Penyebaran tulisan atau gambar yang bertujuan untuk melecehkan bisa dianggap sebagai cyberbullying. Ada yang bisa dibagikan ke publik, ada juga yang sebaiknya disimpan sendiri atau minimal diceritakan kepada orang dekat. Oh iya, SMS spam dan penipuan itu juga termasuk harassment, loh. Jadi jangan suka spamming lagi yaa, apalagi kalo gak penting atau mengejek misal “gendut gendut gendut gendut” sampe 10 kali itu masuk harassment lho.


           3.     Denigration

   Tipe cyberbullying ini banyak terjadi ketika pemilu beberapa bulan lalu. Denigration       adalah penyebaran kabar bohong atau fitnah kepada seseorang supaya reputasi orang      tersebut rusak. Jadi,  gak usah lagi deh jelek- jelekin temen di sosmed.


4.     Impersonation
Sering ngebajak akun sosmed teman dan bikin status aneh-aneh? Memang lucu sih, buat kamu doang tapi. Yang dibajak pasti mencak-mencak. Lebih baik kamu hentikan kebiasaan itu. Soalnya berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan status atau pesan yang bersifat melecehkan termasuk cyberbullying, loh. Kamu sudah mengusik area privasi dari seseorang.

5.     Outing
Kamu sering membuat meme dari foto-foto orang yang tidak kamu kenal? Sebaiknya, hal itu kamu hentikan sekarang. Kalau kamu tidak mendapatkan izin dari yang bersangkutan untuk menggunakan foto tersebut, maka kamu bisa bermasalah dengan pihak berwajib nantinya. Karena penyebaran foto tanpa seizin pemiliknya dengan tujuan melecehkan termasuk cyberbullying.


Hayoo inget-inget. Sudah berapa korban cyberbullying yang tanpa sadar telah kamu sakiti? Mulai sekarang, ubah kebiasaanmu dalam menggunakan sosial media yaa..

Kepemimpinan

   Pemimpin merupakan faktor penentu dalam menentukan hasil usaha yang dilakukan oleh suatu organisasi. Sehingga, pada prinsipnya, pemimpinlah yang memiliki kesempatan paling besar untuk 'merubah jerami menjadi emas' atau 'merubah tumpukan uang menjadi abu'. Peribahasa tersebut menjelaskan bahwa faktor pemimpin merupakan faktor utama yang dapat menentukan maju/ mundur serta hidup/ matinya sebuah organisasi.

    Ada beberapa sebab munculnya seorang pemimpin:

1. Teori Genetis, yang menyatakan bahwa pemimpin itu tidak dibuat, melainkan pemimpin itu timbul/ ada dengan sendirinya.
2. Teori Sosial, yang menyatakan bahwa pemimpin itu harus dipersiapkan (melalui pendidikan). Setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila mendapat pendidikan yang layak.
3. Teori Ekologis (Sintesis), yang menyatakan bahwa pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang memiliki bakat memimpin dan kemudian dikembangkan melalui usaha pendidikan dan pengembangan pengalaman.

    Setiap pemimpin memiliki sifat, watak, serta kepribadian yang unik dan berbeda satu sama lain. Ada tipe yang baik, buruk, maupun gabungan antara keduanya. Beberapa tipe pemimpin yang baik, antara lain adalah pemimpin tipe developer/pembangun. Tipe ini merupakan pemimpin yang kreatif, dinamis, baik dalam pelimpahan wewenang kepada bawahan, serta percaya kepada bawahan. Selain itu ada tipe pemimpin yang kharismatik. Pemimpin tipe ini merupakan pribadi yang memiliki kelebihan berupa daya tarik dan pembawaannya yang tinggi. Tipe ini dianggap mempunyai kekuatan luar biasa yang dapat membuat banyak orang kagum. Ada juga tipe pemimpin eksekutif, yaitu pemimpin yang dapat memberikan motivasi serta dapat dijadikan contoh, tekun, dan pandangan serta wawasannya luas. Beberapa tipe pemimpin yang buruk, seperti tipe otokrat. Pemimpin bertipe ini adalah seseorang yang tegas tetapi kasar, bersifat diktatoris, mau menang sendiri, keras kepala dan angkuh. Selain itu ada juga pemimpin tipe compromiser/ pengkompromi yang lemah dalam pengambilan keputusan serta memiliki pendirian yang lemah.

    Pemimpin yang baik mengetahui teknik- teknik kepemimpinan dan menerapkannya dalam berorganisasi. Beberapa teknik itu, antara lain:

1. Etika dan tingkah laku profesi pemimpin
2. Dinamika kelompok
3. Komunikasi
4. Pengambilan keputusan
5. Keterampilan berdiskusi
Seorang pemimpin harus memiliki sifat- sifat sebagai berikut:

- Kuat secara mental dan fisik
- Bersemangat
- Ramah dan kasih sayang
- Jujur
- Memiliki kemampuan/ keterampilan
- Tegas dan cepat dalam mengambil keputusan
- Cerdas dan bijaksana
- Dapat dipercaya
- Dapat mengendalikan emosi
- Bersifat objektif dan adil
- Bisa memberi perintah, celaan, pujian, dan koreksi
- Bisa menerima saran atau kritik
- Memperhatikan rekan kelompoknya
- Menciptakan disiplin dengan memberi contoh

Semoga artikel ini bermanfaat:)



DAFTAR PUSTAKA

1. Bob Sunardi, Andri. 2013. Boyman: Ragam Latih Pramuka. Bandung: Penerbit Nuansa Muda

AKUN LINE RESMI BHAWARA 8

Friends Added